
apa kabar teman-teman. mungkin saat ini kalian sibuk dengan urusan masing-masing. tapi saya harap ingat-ingatlah kami. saya harap persahabatan kita tetap terjaga. bo
kenapa saya pilih You and Me? karena merupakan informasi buat saya sendiri dan kalian semua. semoga dengan adanya blogger ini saya dan kalian semua dapat berinteraksi dalam membangun indonesia maju dan memberikan solusi pada tiap permasalahan yang melanda bangsa indonesia. ini diciptakan sebagai buah dari kepedihan, keresahan, dan kepedulian atas problem saat ini. bohari

PURWOKERTO--MI: Bayi kembar penderita hydrocephallus (pembesaran kepala) di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo mengalami gizi buruk.
Akibatnya, bayi usia 8 bulan, yakni Melani dan Melina belum dapat dioperasi. Tim dokter masih memberikan perawatan gizi buruk sampai berat badannya ideal.
Menurut Priyono, dokter yang merawat bayi kembar tersebut, bobot Melani hanya 3,3 kilogram (kg) sedangkan Melina 3,8 kg. "Seharusnya, untuk ukuran bayi usia 8 bulan minimal berat badannya 6 kg. Jika belum sampai 6 kg, maka operasi belum dapat dilakukan," jelas Priyono, Rabu (5/3).
Dikatakan Priyono, saat ini pihaknya berupaya keras untuk menaikkan berat badan dengan memberikan asupan makanan yang bergizi. "Beberapa faktor penyebab gizi buruk adalah karena harus menyusui bayi kembar, maka produksi dan kualitas Air Susu Ibu (ASI) menjadi berkurang. Kemudian kondisi otak yang tertekan cairan menyebabkan reflek bayi untuk minum menjadi lamban dan yang ke tiga faktor pola asuh," ujarnya.
Ia menambahkan gizi buruk yang dialami bayi kembar tersebut sudah kronis. "Selain menderita gizi buruk, Melani juga tengah sakit radang serta flu," katanya.
Sementara itu, orang tua bayi kembar, Bambang Aji Sucipto, 40, dan Siti Juleha, 40, warga Kelurahan Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, hanya pasrah dengan kondisi anaknya. Siti juga mengaku kalau anaknya jarang meminumi ASI karena tidak lancar.
"Sementara kalau saya membeli susu formula tidak memiliki uang. Uang dari mana, suami saya kan hanya buruh tani," ujarnya. (LD/OL-06)
KUPANG--MI: Korban tewas akibat busung lapar di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Kamis (6/3) bertambah menjadi lima orang dari sebelumnya tiga.
Dua orang yang meninggal terakhir adalah Mikael Ukad, 1, warga Desa Metina, dan Natanael Leuwanan, 15 bulan, asal Desa Tungganamo, Kecamatan Lobalain. Kedua balita meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ba''a di ibu kota Kabupaten Rote Ndao pada Rabu (5/3)petang.
Sedangkan tiga balita yang tewas pada akhir Februari lalu adalah Dewi Henuk, 13, Ribka Lette, 2, Linton Sui, 3.
Kepala Dinas Kesehatan Rote Ndao Jonathan Lenggu mengatakan, lima korban busung lapar itu juga menderita diare, malaria, dan tuberkulosis (TBC). "Penyakit ikutan yang mengakibatkan anak-anak menderita busung lapar. Jadi bukan hanya kekurangan makanan bergizi," katanya saat dihubungi di Rote.
Dia mengatakan, balita yang busung lapar tersebut tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis sehingga tim medis tidak berhasil menyelamatkan nyawa mereka. Tubuh mereka hanya tinggal tulang terbalut kulit, sedangkan perut dan kepala membesar.
Sementara itu, pasien busung lapar dan gizi buruk yang masih dirawat di RSUD Ba'a sampai Kamis berjumlah tujuh orang. Mereka datang dari sejumlah desa di Kecamatan Lobalain, Rote Barat Laut, dan Pantai Baru.
Dua di antara ketujuh pasien kini dalam kondisi kritis, yakni Michael Ukat, 1, asal Kelurahan Metina, Kecamatan Lobalain dan Natanya, 1,3, asal Desa Tungganamo, Kecamatan Pantai Baru.
Jonathan khawatir korban tewas akibat busung lapar dan gizi buruk di daerah itu kian bertambah karena sebagian besar warga tidak mampu membeli bahan makanan bergizi akibat miskin. "Pasien yang meninggal, berasal dari keluarga miskin," katanya.
Kekhwatiran tersebut beralasan sebab sampai kini DPRD Rote Ndao belum mengesahkan anggaran penanganan gizi buruk dan busung lapar. "Dana dari pemerintah pusat dan provinsi juga belum ada," tuturnya.
Selama 2007, menurut Dia, korban tewas akibat gizi buruk berjumlah 13 orang. Sedangkan yang menjalani perawatan di rumah sakit dan puskesmas tercatat 138 orang. (PO/OL-01)

PEKANBARU--MI: Sebanyak 166.167 balita di Riau dikategorikan mengalami gizi buruk. Jumlah ini sekitar 33,3% dari total 499 ribu bayi dari 11 Kabupaten/kota yang disurvei Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau sepanjang tahun 2007 lalu.
"Jumlah itu belum termasuk 20 kasus gizi buruk kronis atau busung lapar yang terdapat di Kabupaten Rokan Hulu dan Kota Pekanbaru," kata Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Pelayanan Kesehatan dan Gizi Dinkes Riau Burhanuddin Agung kepada Media Indonesia, Rabu (5/3).
Ia menjelaskan, jumlah itu jauh meningkat dari hasil survei pada tahun 2006 lalu yakni dari 567.544 balita, 25% diantaranya dikategorikan bergizi buruk.
Namun jumlah kasus gizi buruk berbanding terbalik dengan kasus gizi buruk kronis yang cenderung mengalami penurunan. Disebutkannya, pada 2006 lalu terdata sebanyak 41 kasus gizi buruk kronis dengan empat kasus kematian. Sedangkan pada 2005, kasus gizi buruk kronis mencapai 88 kasus dengan empat kasus meninggal dunia.
"Berbeda dengan daerah lainnya di tanah air. Di Riau, faktor penyebab kasus gizi buruk lebih banyak terjadi akibat terinfeksi berbagai macam virus seperti radang paru dan kelainan usus. Selain itu juga terjadi karena faktor kualitas keturunan," jelasnnya.
Karena itu, lanjutnya, Dinkes Riau saat ini menyiapkan sejumlah langkah penanggulangan, salah satunya penyediaan 200 ribu makanan pendamping ASI untuk balita penderita gizi buruk. Selain itu juga penyediaan suplemen pelangkap bagi balita di setiap puskesmas dan posyandu di kabupaten/kota.
Ia menambahkan, dengan adanya makanan pedamping ini, diharapkan status gizi bayi yang menderita gizi buruk dapat ditingkatkan menjadi gizi baik. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau akan menyiapkan 30% anggaran untuk pembelian makanan pendamping. Sedangkan sisanya nanti akan dibeli oleh masing-masing daerah. (RK/OL-06)
BENGKULU--MI: Sebanyak 377 balita di Provinsi Bengkulu menderita gizi buruk. Untuk mengatasinya pemerintah setempat segera memberikan bantuan dana Rp10.000 sampai Rp13.000 per hari selama tiga bulan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Bambang Suseno, Kamis (6/3), mengatakan, balita penderita gizi buruk sebanyak itu pada tahun lalu tersebar di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Selatan, Seluma, Lebong, dan di Muko-Muko.
Dana tersebut dapat digunakan orang tua balita untuk membeli makanan bergizi. "Bantuan diberikan sampai kondisi balita tersebut membaik, apabila dalam waktu 120 hari belum juga membaik, akan diberikan makanan tambahan pendamping ASI selama dua bulan," katanya.
Upaya lainnya yang telah dilakukan untuk mengurangi jumlah penderita gizi buruk adalah dengan meningkatkan kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu). Sebab, ujarnya, posyandu merupakan ujung tombak dalam mengetahui kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pantauan Media Indonesia, Kamis, di beberapa posyandu yang berada di Kota
Bengkulu masih banyak balita yang mengalami kurang gizi dan gizi buruk. Mereka berasal dari keluarga miskin, sehingga orang tua balita tidak mampu memberikan asupan makanan bergizi. (MY/OL-01)

YOGYAKARTA--MI: Sebanyak 1.500 dari sekitar 200 ribu balita di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menderita gizi buruk. Meski angka ini turun jika dibandingkan dengan 2007, namun harus mendapat perhatian serius.
Kepala Dinas Kesehatan DIY Bondan Agus Suryanto kepada Media Indonesia, Jumat (7/3) mengatakan pada tahun lalu jumlah balita yang mengalami gizi buruk tercatat sekitar 2.000 orang.
"Saat ini sudah turun ke 1.500. Namun penurunan ini tidak menjadikan masalah gizi buruk bisa dianggap bukan masalah serius," kata Bondan.
Apalagi, ujarnya, angkanya masih di atas 1.000 balita. Untuk itu, pihaknya tengah merancang program gerakan untuk kesejahteraan balita guna terus menekan angka balita penderita gizi buruk.
"Namun detilnya masih kita rancang. Yang jelas program ini nanti lebih menekankan pemberdayaan dan peranan masyarakat," tambah Bondan.
Sementara itu, pada 2007 selain terdapat 2.000 balita gizi buruk juga masih dijumpai sekitar 20 ribu balita yang mengalami kekurangan gizi. Kondisi tersebut sebagian besar akibat faktor sosial ekonomi.
"Kasus ini bukan semata-mata karena asupan gizinya yang kurang, tapi juga faktor penyakit dan seperti cacingan, dan TBC," jelasnya.
Bondan juga mengatakan, penanganan balita gizi buruk akan ditanggung melalui Askeskin. Namun, jika ada dari mereka yang belum terakomodasi oleh Askeskin, akan ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Sosial DIY. (AZ/OL-01)




Liputan6.com, Bone: Tangisan tiga bayi kembar penderita gizi buruk asal Bone, Sulawesi Selatan, seolah ingin merenungi nasibnya yang tak juga membaik sejak dilahirkan dua bulan lalu. Nuraisyah, Nurhaedah, dan Nuraeni, putri kembar tiga dari seorang penarik becak harus dirawat intensif di Rumah Sakit Tenriawaru, Bone, akibat gizi buruk.
Jamaluddin dan Rosmini yang miskin tak mampu memberi asupan gizi bagi ketiga putri kembarnya di saat air susu ibunya tidak keluar. Akibatnya ketiga bayi yang hanya diberi makan seadanya ini menderita diare akut dan gizi buruk. Perawatan medis yang diupayakan pihak rumah sakit terhadap kembar tiga itu, kini membawa kebingungan tersendiri buat Jamaluddin dan Rosmini. Keluarga miskin ini pun mengharapkan Pemerintah Kabupaten Bone turun tangan membebaskan biaya rumah sakit bagi ketiga putrinya.(ANS/Iwan Taruna dan Rizal Randa)

Liputan6.com, Cirebon: Kemiskinan memang memilukan. Gara-gara dari keluarga miskin, seorang bayi yang menderita gizi buruk terpaksa hanya dirawat di rumahnya, baru-baru ini. Beratnya hanya 1,8 kilogram. Padahal usia Rangga sudah mencapai empat bulan. Badan anak pasangan Dirsan dan Taryu, warga miskin Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ini kurus dan terlihat lemas lunglai. Padahal saat dilahirkan berat badan Rangga cukup gemuk. Namun dari hari ke hari berat badannya terus menyusut.
Rangga sempat dibawa ke Rumah Sakit Arjawinangun, Cirebon. Namun ditolak oleh pihak rumah sakit sehingga Rangga hanya dirawat di rumah hingga saat ini. Keluarga miskin ini pun hanya bisa pasrah. Menunggu dermawan yang mau mengulurkan tangannya.(ANS/Ridwan Pamungkas).
email : bohari089@yahoo.co.id

Tak jauh dari rumah Supriyadi didapati pula penderita gizi buruk lain bernama Firman. Kondisi Firman yang berusia satu tahun ini tak jauh berbeda dengan Supriyadi. Ia pun tak pernah mendapatkan asupan gizi yang memadai. Ini lantaran kedua orang tuanya juga berprofesi sebagai pengemis jalanan. Kedua bocah tersebut memiliki perut yang besar dengan tubuh ceking pertanda menderita marasmus. Berbagai upaya ditempuh orang tua mereka untuk mengobati kedua anak ini, namun selalu terkendala persoalan biaya.
Penderita gizi buruk juga ditemukan di Bengkulu. Kali ini gizi buruk diderita Hengki Farel, bayi berusia sepuluh bulan. Farel, saat ini mendapat perawatan intensif di rumah sakit setempat karena mengalami kesulitan bernapas. Farel menderita gizi buruk juga karena orang tuanya tidak mampu.
Pada tahun ini di Bengkulu, tercatat sedikitnya 377 anak penderita gizi buruk yang sempat dirawat di rumah sakit setempat. Ironisnya, seorang di antaranya meninggal dunia.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV).
email:bohari089@yahoo.co.id