PURWOKERTO--MI: Bayi kembar penderita hydrocephallus (pembesaran kepala) di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo mengalami gizi buruk.
Akibatnya, bayi usia 8 bulan, yakni Melani dan Melina belum dapat dioperasi. Tim dokter masih memberikan perawatan gizi buruk sampai berat badannya ideal.
Menurut Priyono, dokter yang merawat bayi kembar tersebut, bobot Melani hanya 3,3 kilogram (kg) sedangkan Melina 3,8 kg. "Seharusnya, untuk ukuran bayi usia 8 bulan minimal berat badannya 6 kg. Jika belum sampai 6 kg, maka operasi belum dapat dilakukan," jelas Priyono, Rabu (5/3).
Dikatakan Priyono, saat ini pihaknya berupaya keras untuk menaikkan berat badan dengan memberikan asupan makanan yang bergizi. "Beberapa faktor penyebab gizi buruk adalah karena harus menyusui bayi kembar, maka produksi dan kualitas Air Susu Ibu (ASI) menjadi berkurang. Kemudian kondisi otak yang tertekan cairan menyebabkan reflek bayi untuk minum menjadi lamban dan yang ke tiga faktor pola asuh," ujarnya.
Ia menambahkan gizi buruk yang dialami bayi kembar tersebut sudah kronis. "Selain menderita gizi buruk, Melani juga tengah sakit radang serta flu," katanya.
Sementara itu, orang tua bayi kembar, Bambang Aji Sucipto, 40, dan Siti Juleha, 40, warga Kelurahan Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, hanya pasrah dengan kondisi anaknya. Siti juga mengaku kalau anaknya jarang meminumi ASI karena tidak lancar.
"Sementara kalau saya membeli susu formula tidak memiliki uang. Uang dari mana, suami saya kan hanya buruh tani," ujarnya. (LD/OL-06)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar