
Senin, Maret 31, 2008
Aisyah usman
ASRIANI AZIS
karina
Jumat, Maret 28, 2008
Gizi Buruk dan Tanggung Jawab Pemerintah

Rabu, 27 Februari 2008
Masalah status gizi masyarakat Indonesia kini sedang diliputi suasana keprihatinan yang
mendalam. Betapa tidak; kelangkaan dan mahalnya sejumlah bahan kebutuhan konsumsi
masyarakat, seperti kedelai, jagung dan terigu berdampak besar terhadap asupan gizi
warga masyarakat. Ini tentu berakibat buruk bagi keluarga miskin di Indonesia yang kini
jumlahnya masih sangat tinggi.
Dampak paling buruk dari kekurangan, kelangkaan dan mahalnya bahan kebutuhan
pangan rakyat ini memperbesar masalah gizi buruk, terutama anak balita di
Indonesia. Harga kedelai yang mencapai Rp 8.000 per kg, justru jauh lebih mahal
dibanding beras. Kedelai sebagai bahan utama pembuat tahu, tempe dan susu
kedelai kini memang berharga mahal. Ini akan membuat setiap keluarga miskin
semakin sulit membeli tahu-tempe yang dulu murah tetapi bergizi tinggi. Sebagai
gantinya, semakin banyak orangtua yang terpaksa hanya memberi makan dengan
lauk kerupuk kepada anaknya.
Sebelum harga kedelai meroket saja kita masih sulit mengatasi kasus gizi buruk di
Tanah Air. Misalnya di DKI Jakarta, Bogor, NTB, NTT, Gorontalo, Jawa Tengah, Jawa
Timur, dan sejumlah provinsi lainnya. Padahal waktu itu harga tahu-tempe masih
murah. Jadi, kalau pemerintah sampai gagal dalam mengembalikan harga kedelai ke
posisi semula, kasus gizi buruk bisa semakin parah. Ini harus cepat teratasi. Bila
tidak, dampaknya sangat buruk bagi sumber daya manusia (SDM) Indonesia,
sekaligus merupakan ancaman lost generation. Lebih-lebih Indonesia masih
menghadapi tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.
Faktor kemiskinan sering menimbulkan kasus gizi buruk, sebab tekanan ekonomi
membuat kuantitas maupun kualitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga
menjadi rendah. Faktor penyebab yang lain adalah kurangnya pemahaman tentang
masalah gizi, buruknya pelayanan kesehatan, dan kondisi lingkungan.
Data dari Depkes menunjukkan, Indonesia sebenarnya pernah berhasil menekan
angka kasus gizi kurang dan gizi buruk pada anak balita. Yakni menjadi 37,5%
(1989), 35,5% (1992), 31,6 % (1995), 29,5% (1998), 26,4% (1999), dan 24,6%
(2000). Namun, angka-angka tersebut kembali meningkat. Yakni menjadi 26,1%
(2001), 27,3% (2002), 27,5% (2003), dan 29% (2005).
Antara 1989-2000 intervensi gizi dari pemerintah memang lebih cepat dilakukan saat
petugas menemukan kasus gizi kurang atau gizi buruk pada anak balita. Hal itu,
menurut hasil penelitian, karena masih berfungsinya pos pelayanan terpadu
(posyandu) dan tenaga-tenaga medis wajib praktik yang menjangkau hingga ke
pelosok-pelosok daerah.
Namun, saat ini, dari 250.000-an posyandu di Indonesia tinggal 40% yang masih
aktif. Jadi, praktis tinggal sekitar 43% anak balita yang terpantau. Tantangan
penanggulangan masalah gizi bahkan terasa lebih besar sejak era otonomi daerah.
Walaupun kini pemerintah daerah (pemda) sebenarnya berperan lebih besar untuk
mengatasi tantangan tersebut, namun realitasnya tidak selalu demikian.
Bila kita mengacu pada garis kemiskinan menurut standar organisasi pangan sedunia
(FAO), yakni penghasilan 2 dolar AS per hari, maka kini lebih dari 110 juta jiwa
Indonesia (53% dari total penduduk) masih di bawah garis kemiskinan. Sebab itu,
mustahil kita bisa mengatasi masalah gizi kurang dan gizi buruk di masyarakat tanpa
adanya upaya perbaikan ekonomi di dalam rumah tangga. Ini merupakan tantangan
bagi pemerintah agar segera mengendalikan harga sembako, memberdayakan
ekonomi rakyat kecil, dan memacu aktivitas posyandu.
Komitmen pemda terhadap pembangunan di bidang kesehatan masih minim.
Padahal, pada era otonomi daerah ini, perannya justru sangat menentukan
keberhasilan pembangunan kesehatan yang menuntut lebih banyak perhatian
sehubungan sewaktu-waktu bisa terjadi bencana banjir dan angka kemiskinan masih
tinggi. Alokasi anggaran untuk kesehatan yang hanya 3% dari PDB menunjukkan
lemahnya komitmen pemda untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat.
Sedangkan di Malaysia, Thailand dan Filipina mengalokasikan 6-7 kali lipat anggaran
lebih besar dibanding Indonesia untuk pendidikan dan kesehatan.
Menurut pemerintah, angka kemiskinan pada 2006 mengalami penurunan, dan
kesejahteraan masyarakat meningkat. Namun, data dari Departemen Kesehatan
(Depkes), menyatakan anak balita yang terkena gizi buruk melonjak dari 1,8 juta
(2005) menjadi 2,3 juta anak (2006). Selain itu lebih dari 5 juta balita terkena gizi
kurang. Lebih tragis lagi, dari seluruh korban gizi kurang dan gizi buruk tadi, sekitar
10% berakhir dengan kematian.
Situasi-kondisi pangan nasional dewasa ini benar-benar memprihatinkan. Maka
pemerintah kita harapkan bisa segera menggalakkan sistem kewaspadaan pangan
dan gizi (SKPG) dengan dukungan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang
mampu mengaktifkan posyandu agar SKPG berfungsi lagi. Tugasnya memantau
status gizi masyarakat hingga ke pelosok desa terpencil. Jika ada warga yang
kedapatan terkena gizi buruk, petugas puskesmas terdekat harus langsung
menangani. Posyandu harus diaktifkan kembali, sebab pencatatan di posyandu akan
memberikan gambaran riil ihwal laporan perkembangan kasus gizi buruk hingga ke
pelosok desa. Di posyandu, berat anak ditimbang dan dicatat. Bila ada ibu tidak
membawa anak balitanya ke posyandu, petugas harus aktif mendatangi rumahnya.
Namun, seiring perkembangan politik nasional dan lokal terkait otonomi daerah,
banyak pejabat yang tidak sensitif terhadap meningkatnya jumlah penderita gizi
buruk yang tengah melanda keluarga miskin. Akibatnya, para petugas di bawahnya
tidak bisa lagi melayani kesehatan masyarakat secara optimal.***
Penulis adalah pemerhati masalah sosial-kesehatan,
alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat-UI
Bayi Kembar di Banyumas Alami Gizi Buruk
PURWOKERTO--MI: Bayi kembar penderita hydrocephallus (pembesaran kepala) di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo mengalami gizi buruk.
Akibatnya, bayi usia 8 bulan, yakni Melani dan Melina belum dapat dioperasi. Tim dokter masih memberikan perawatan gizi buruk sampai berat badannya ideal.
Menurut Priyono, dokter yang merawat bayi kembar tersebut, bobot Melani hanya 3,3 kilogram (kg) sedangkan Melina 3,8 kg. "Seharusnya, untuk ukuran bayi usia 8 bulan minimal berat badannya 6 kg. Jika belum sampai 6 kg, maka operasi belum dapat dilakukan," jelas Priyono, Rabu (5/3).
Dikatakan Priyono, saat ini pihaknya berupaya keras untuk menaikkan berat badan dengan memberikan asupan makanan yang bergizi. "Beberapa faktor penyebab gizi buruk adalah karena harus menyusui bayi kembar, maka produksi dan kualitas Air Susu Ibu (ASI) menjadi berkurang. Kemudian kondisi otak yang tertekan cairan menyebabkan reflek bayi untuk minum menjadi lamban dan yang ke tiga faktor pola asuh," ujarnya.
Ia menambahkan gizi buruk yang dialami bayi kembar tersebut sudah kronis. "Selain menderita gizi buruk, Melani juga tengah sakit radang serta flu," katanya.
Sementara itu, orang tua bayi kembar, Bambang Aji Sucipto, 40, dan Siti Juleha, 40, warga Kelurahan Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, hanya pasrah dengan kondisi anaknya. Siti juga mengaku kalau anaknya jarang meminumi ASI karena tidak lancar.
"Sementara kalau saya membeli susu formula tidak memiliki uang. Uang dari mana, suami saya kan hanya buruh tani," ujarnya. (LD/OL-06)
Korban Meninggal akibat Busung Lapar di NTTJadi Lima Orang
KUPANG--MI: Korban tewas akibat busung lapar di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Kamis (6/3) bertambah menjadi lima orang dari sebelumnya tiga.
Dua orang yang meninggal terakhir adalah Mikael Ukad, 1, warga Desa Metina, dan Natanael Leuwanan, 15 bulan, asal Desa Tungganamo, Kecamatan Lobalain. Kedua balita meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ba''a di ibu kota Kabupaten Rote Ndao pada Rabu (5/3)petang.
Sedangkan tiga balita yang tewas pada akhir Februari lalu adalah Dewi Henuk, 13, Ribka Lette, 2, Linton Sui, 3.
Kepala Dinas Kesehatan Rote Ndao Jonathan Lenggu mengatakan, lima korban busung lapar itu juga menderita diare, malaria, dan tuberkulosis (TBC). "Penyakit ikutan yang mengakibatkan anak-anak menderita busung lapar. Jadi bukan hanya kekurangan makanan bergizi," katanya saat dihubungi di Rote.
Dia mengatakan, balita yang busung lapar tersebut tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis sehingga tim medis tidak berhasil menyelamatkan nyawa mereka. Tubuh mereka hanya tinggal tulang terbalut kulit, sedangkan perut dan kepala membesar.
Sementara itu, pasien busung lapar dan gizi buruk yang masih dirawat di RSUD Ba'a sampai Kamis berjumlah tujuh orang. Mereka datang dari sejumlah desa di Kecamatan Lobalain, Rote Barat Laut, dan Pantai Baru.
Dua di antara ketujuh pasien kini dalam kondisi kritis, yakni Michael Ukat, 1, asal Kelurahan Metina, Kecamatan Lobalain dan Natanya, 1,3, asal Desa Tungganamo, Kecamatan Pantai Baru.
Jonathan khawatir korban tewas akibat busung lapar dan gizi buruk di daerah itu kian bertambah karena sebagian besar warga tidak mampu membeli bahan makanan bergizi akibat miskin. "Pasien yang meninggal, berasal dari keluarga miskin," katanya.
Kekhwatiran tersebut beralasan sebab sampai kini DPRD Rote Ndao belum mengesahkan anggaran penanganan gizi buruk dan busung lapar. "Dana dari pemerintah pusat dan provinsi juga belum ada," tuturnya.
Selama 2007, menurut Dia, korban tewas akibat gizi buruk berjumlah 13 orang. Sedangkan yang menjalani perawatan di rumah sakit dan puskesmas tercatat 138 orang. (PO/OL-01)
166.167 Balita di Riau Alami Gizi Buruk

PEKANBARU--MI: Sebanyak 166.167 balita di Riau dikategorikan mengalami gizi buruk. Jumlah ini sekitar 33,3% dari total 499 ribu bayi dari 11 Kabupaten/kota yang disurvei Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau sepanjang tahun 2007 lalu.
"Jumlah itu belum termasuk 20 kasus gizi buruk kronis atau busung lapar yang terdapat di Kabupaten Rokan Hulu dan Kota Pekanbaru," kata Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Pelayanan Kesehatan dan Gizi Dinkes Riau Burhanuddin Agung kepada Media Indonesia, Rabu (5/3).
Ia menjelaskan, jumlah itu jauh meningkat dari hasil survei pada tahun 2006 lalu yakni dari 567.544 balita, 25% diantaranya dikategorikan bergizi buruk.
Namun jumlah kasus gizi buruk berbanding terbalik dengan kasus gizi buruk kronis yang cenderung mengalami penurunan. Disebutkannya, pada 2006 lalu terdata sebanyak 41 kasus gizi buruk kronis dengan empat kasus kematian. Sedangkan pada 2005, kasus gizi buruk kronis mencapai 88 kasus dengan empat kasus meninggal dunia.
"Berbeda dengan daerah lainnya di tanah air. Di Riau, faktor penyebab kasus gizi buruk lebih banyak terjadi akibat terinfeksi berbagai macam virus seperti radang paru dan kelainan usus. Selain itu juga terjadi karena faktor kualitas keturunan," jelasnnya.
Karena itu, lanjutnya, Dinkes Riau saat ini menyiapkan sejumlah langkah penanggulangan, salah satunya penyediaan 200 ribu makanan pendamping ASI untuk balita penderita gizi buruk. Selain itu juga penyediaan suplemen pelangkap bagi balita di setiap puskesmas dan posyandu di kabupaten/kota.
Ia menambahkan, dengan adanya makanan pedamping ini, diharapkan status gizi bayi yang menderita gizi buruk dapat ditingkatkan menjadi gizi baik. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau akan menyiapkan 30% anggaran untuk pembelian makanan pendamping. Sedangkan sisanya nanti akan dibeli oleh masing-masing daerah. (RK/OL-06)
377 Balita di Bengkulu Menderita Gizi Buruk
BENGKULU--MI: Sebanyak 377 balita di Provinsi Bengkulu menderita gizi buruk. Untuk mengatasinya pemerintah setempat segera memberikan bantuan dana Rp10.000 sampai Rp13.000 per hari selama tiga bulan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Bambang Suseno, Kamis (6/3), mengatakan, balita penderita gizi buruk sebanyak itu pada tahun lalu tersebar di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Selatan, Seluma, Lebong, dan di Muko-Muko.
Dana tersebut dapat digunakan orang tua balita untuk membeli makanan bergizi. "Bantuan diberikan sampai kondisi balita tersebut membaik, apabila dalam waktu 120 hari belum juga membaik, akan diberikan makanan tambahan pendamping ASI selama dua bulan," katanya.
Upaya lainnya yang telah dilakukan untuk mengurangi jumlah penderita gizi buruk adalah dengan meningkatkan kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu). Sebab, ujarnya, posyandu merupakan ujung tombak dalam mengetahui kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pantauan Media Indonesia, Kamis, di beberapa posyandu yang berada di Kota
Bengkulu masih banyak balita yang mengalami kurang gizi dan gizi buruk. Mereka berasal dari keluarga miskin, sehingga orang tua balita tidak mampu memberikan asupan makanan bergizi. (MY/OL-01)
1.500 Balita di DIY Mengalami Gizi Buruk

YOGYAKARTA--MI: Sebanyak 1.500 dari sekitar 200 ribu balita di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menderita gizi buruk. Meski angka ini turun jika dibandingkan dengan 2007, namun harus mendapat perhatian serius.
Kepala Dinas Kesehatan DIY Bondan Agus Suryanto kepada Media Indonesia, Jumat (7/3) mengatakan pada tahun lalu jumlah balita yang mengalami gizi buruk tercatat sekitar 2.000 orang.
"Saat ini sudah turun ke 1.500. Namun penurunan ini tidak menjadikan masalah gizi buruk bisa dianggap bukan masalah serius," kata Bondan.
Apalagi, ujarnya, angkanya masih di atas 1.000 balita. Untuk itu, pihaknya tengah merancang program gerakan untuk kesejahteraan balita guna terus menekan angka balita penderita gizi buruk.
"Namun detilnya masih kita rancang. Yang jelas program ini nanti lebih menekankan pemberdayaan dan peranan masyarakat," tambah Bondan.
Sementara itu, pada 2007 selain terdapat 2.000 balita gizi buruk juga masih dijumpai sekitar 20 ribu balita yang mengalami kekurangan gizi. Kondisi tersebut sebagian besar akibat faktor sosial ekonomi.
"Kasus ini bukan semata-mata karena asupan gizinya yang kurang, tapi juga faktor penyakit dan seperti cacingan, dan TBC," jelasnya.
Bondan juga mengatakan, penanganan balita gizi buruk akan ditanggung melalui Askeskin. Namun, jika ada dari mereka yang belum terakomodasi oleh Askeskin, akan ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Sosial DIY. (AZ/OL-01)
Hubungan ”Otak Kosong” dengan Gizi Buruk

INDONESIA harus menelan ”pil pahit” karena hanya sebagian kecil dari penduduknya yang kebutuhan gizinya tercukupi. National Socio-Economic Survey (Susenas) mencatat, pada tahun 1989 saja ada lebih dari empat juta penderita gizi buruk adalah anak-anak di bawah usia dua tahun. Padahal menurut ahli gizi, 80 persen proses pembentukan otak berlangsung pada
usia 0-2 tahun.
Ada sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan kalori protein. Itu data yang dihimpun Susenas empat tahun lalu. Bukan tidak mungkin saat ini jumlahnya meningkat tajam karena krisis ekonomi yang berkepanjangan ditambah dengan masalah pangan yang sulit didapat. Bahkan menurut United Nations Children’s Fund (Unicef) saat ini ada sekitar 40 persen anak Indonesia di bawah usia lima tahun (balita) menderita gizi buruk.
Menurut ahli gizi Ir. Tatang S. MSc, seorang anak yang pada usia balita kekurangan gizi akan mempunyai Intellegent Quotient (IQ) lebih rendah 13-15 poin dari anak lain pada saat memasuki sekolah.
Hal itu dibenarkan oleh Dr. Soesilawati dari Rumah Sakit Mitra yang berpendapat bahwa perkembangan otak anak usia balita sangat ditentukan oleh faktor makanan yang dikonsumsi. ”Zat gizi seperti protein, zat besi, berbagai vitamin, termasuk asam lemak omega 3 adalah pendukung kecerdasan otak anak. Zat-zat itu bisa didapat dari makanan sehari-hari seperti ikan, telur, susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Singkatnya, pola makan seorang anak haruslah bervariasi, tidak hanya satu atau dua jenis saja,” ujar Soesilowati menjelaskan.
Gizi Pendukung Otak
Asam lemak esensial omega 3 merupakan zat yang berperan vital dalam proses pertumbuhan sel-sel neuron otak untuk bekal bayi yang dilahirkan. Ibu hamil masa kini dapat mengonsumsinya melalui banyaknya produk susu khusus ibu hamil. Asam alfa linoleat (LNA), eikosapentaetonat (EPA) serta dohosaheksaenoat (DHA) adalah tiga bentuk asam omega 3 yang telah masuk dalam proses elongate (dipanjangkan) dan desaturate (diubah menjadi tidak jenuh).
”Produk-produk susu yang mengklaim dirinya mengandung DHA atau omega 3 perlu diuji dulu secara klinis untuk membuktikan kebenarannya. Mungkin memang produk itu mengandung zat yang disebut tapi tentu hanya dalam jumlah kecil saja,” komentar Tatang. Ia menganjurkan agar baik anak-anak maupun ibu hamil lebih banyak mengonsumsi sumber-sumber alami dari semua gizi yang dibutuhkan tubuh. Asam lemak omega 3 banyak terdapat dalam ikan atau minyak ikan. Begitu juga protein yang terdapat pada kacang-kacangan, telur, dan ikan.
Sementara zat besi tidak kalah penting dalam menunjang kerja otak. Kekurangan zat besi bisa mengurangi produksi sel darah merah. Remaja perempuan yang kurang mengonsumsi zat besi cenderung mempunyai IQ rendah, demikian hasil riset terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari King’s College, London. Ada hubungan signifikan antara rendahnya level hemoglobin dengan performance mental seseorang.
Hemoglobin adalah protein yang terdapat dalam sel darah merah yang memainkan peran penting dalam transportasi oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Maka zat besi menjadi komponen esensial bagi hemoglobin. Tanpa mendapat tambahan zat besi maka tubuh kita tidak mampu menghasilkan jumlah sel darah merah yang cukup.
Inilah mengapa perempuan hamil dan perempuan pekerja membutuhkan asupan zat besi. Perempuan hamil memerlukannya dua kali lebih banyak dari saat dirinya tidak hamil. Sedangkan perempuan pekerja membutuhkan tambahan zat besi karena di samping melakukan kegiatan sehari-hari yang lumayan keras, ada masa menstruasi yang menyebabkan mereka terancam anemia.
Riset yang dilakukan Dr. Michael Nelson dari Inggris membuktikan bahwa perempuan pekerja yang menderita anemia mempunyai poin IQ lebih rendah daripada yang tidak menderita anemia.
”Untuk mendapatkan zat besi secara alamiah bisa dengan cara memakan sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan dan ikan. Jika memang mampu akan lebih baik didukung dengan asupan zat besi yang sudah banyak dijual bebas,” ujar Soesilowati.
Sementara Dr. Nelson menjelaskan bahwa korelasi antara zat besi dengan kecerdasan sangat sederhana. Kurangnya zat besi akan mengurangi jumlah hemoglobin. Otomatis hal ini membuat suplai oksigen terhambat ke otak dan membuat otak tidak bisa bekerja secara optimal. Bagaimanapun juga jumlah enzim yang mengatur sinyal transmisi ke otak juga bergantung pada zat besi. ”Penyerapan zat besi akan lebih efektif jika kita juga mengonsumsi vitamin C dalam jumlah cukup,” ujar Soesilowati.
Asupan Gizi
Banyaknya produk suplemen vitamin yang kini beredar secara bebas bisa berdampak baik sekaligus berdampak buruk. Menurut Tatang, suatu produk suplemen harus menjalani uji klinis dulu sebelum dipasarkan. Ia menegaskan agar kita tidak terlena begitu saja dengan rayuan iklan yang terlalu bombastis.
Tapi di sisi lain produk suplemen yang memang bisa dipercaya kebenarannya sangat berguna bagi kebanyakan orang yang tidak sempat mendapatkan gizi tersebut dari makanan sehari-hari.
”Lebih baik kalau berbagai kebutuhan gizi didapat dari makanan langsung, bukan asupan atau suplemen yang dijual bebas. Sebab tak seorang pun yang bisa menjamin keamanannya,” tambah Soesilawati. ”Kecuali kalau asupan itu memang dianjurkan oleh dokter atau didapat dari dokter.”
Sedangkan anak usia 0-2 tahun sebaiknya mendapatkan Air Susu Ibu (ASI). Seperti yang dikatakan Tatang bahwa ASI mengandung semua zat yang dibutuhkan dalam perkembangan otak anak.
Banyak produk susu kaleng atau susu formula yang dalam iklan disebutkan mengandung asam linoleat, DHA dan sebagainya. Namun sampai detik ini tidak ada bukti yang bisa berkata bahwa susu formula mampu menyamai khasiat ASI.(mer)
27 Persen Balita Indonesia Alami Gizi Buruk

Surabaya (ANTARA News) - Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian (Deptan) RI Tjuk Eko Hari Basuki menegaskan, 27 persen bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesia mengalami gizi buruk. "Gizi buruk itu tidak terjadi mendadak, tapi sudah lama," katanya di sela-sela seminar `Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Menuju Pertanian Tangguh di Jatim` yang digelar Pemprov Jatim-Bank Jatim-UPN Jatim di Surabaya, Kamis. Menurut dia, penyebab gizi buruk itu ada dua hal yakni kemiskinan dan rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi, sehingga balita menjadi kurang diperhatikan dan akhirnya berat badannya pun di bawah standar. "Saya pernah menemukan seorang ibu di NTB yang memiliki gelang, kalung, dan perhiasan emas lainnya, sehingga dia sebenarnya mampu secara ekonomi, tapi dia tidak tahu gizi yang baik untuk makanan anaknya," katanya. Ditanya langkah yang ditempuh pemerintah untuk mengatasinya, ia mengatakan kasus gizi buruk akan diatasi dengan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi) yang melakukan pemetaan daerah rawan pangan. "Hasilnya, kami memberikan Rp25 juta kepada setiap dari 300 kabupaten/kota yang tergolong miskin. Di Jatim sendiri tercatat delapan daerah miskin, terutama di Madura dan kawasan `tapal kuda`," katanya. Selain itu, katanya, pihaknya akan mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat. "Jadi, perhatian petugas Posyandu akan meningkat, sehingga target berkurangnya krisis pangan pada 2015 dapat tercapai," katanya dalam acara yang dihadiri HM Noer dan Basofi (mantan gubernur) serta Mulyanto (Dirut Bank Jatim).(*).
email:bohari089@yahoo.co.id
Penyebaran Kasus Gizi Buruk Meluas

Liputan6.com, Medan: Penderita gizi buruk di Tanah Air semakin menyebar. Jika sebelumnya gizi buruk banyak ditemukan di wilayah Indonesia Timur, kini kasus tersebut terjadi di Indonesia Barat, termasuk Pulau Sumatra dan Jawa yang notabene perekonomiannya lebih maju. Mutia, misalnya. Memasuki usia dua tahun, dia seharusnya sudah bisa melakukan berbagai aktivitas. Namun gizi buruk membuat bocah ini hanya bisa tergolek tidak berdaya. Kaki warga Desa Suka Makmur, Deli Serdang, Sumatra Utara, ini amat kurus sehingga tidak mampu menahan tubuhnya untuk berdiri. Kondisi badannya juga tak kalah mengenaskan. Kondisi seperti ini sudah lama dialami Mutia. Jika tidak segera ditangani, ia terancam lumpuh permanen. Kondisi Mutia tak terlepas dari keadaan ekonomi orang tua gadis cilik ini. Sang ayah hanya sebagai pengumpul barang bekas yang juga harus menghidupi delapan anak lainnya. Hal serupa dialami Lestari. Bayi berusia lima bulan ini harus harus mengenakan selang infus karena kondisinya mengkhawatirkan. Selain menderita gizi buruk, Lestari yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Djojonegoro, Temanggung, Jawa Tengah, juga menderita infeksi saluran pernapasan. Saat lahir, bayi warga Desa Kemiri Ombo ini berat badannya 2,9 kilogram. Karena makanannya tidak terjaga, berat badan Lestari terus turun. Saat ini bobot tubuhnya hanya 2,5 kilogram. Padahal berat badan ideal anak seusianya minimal harus mencapai enam kilogram. Gizi buruk juga dialami Arista Widya Rosidah. Nasibnya sangat memprihatinkan karena ia juga mengalami pengecilan kepala. Arista kini hidup di Boyolali, Jawa Tengah, dengan orang tua angkat setelah dibuang orang tua kandungnya. Sama seperti penderita gizi buruk lainnya, Arista sehari-hari tidak pernah diberikan susu dan dibawa ke dokter karena keterbatasan biaya. Orang tua angkatnya hanya berprofesi sebagai loper koran.(YNI/Tim Liputan 6 SCTV).
email:bohari089@yahoo.co.id
Kembar Tiga Bergizi Buruk di Bone

Liputan6.com, Bone: Tangisan tiga bayi kembar penderita gizi buruk asal Bone, Sulawesi Selatan, seolah ingin merenungi nasibnya yang tak juga membaik sejak dilahirkan dua bulan lalu. Nuraisyah, Nurhaedah, dan Nuraeni, putri kembar tiga dari seorang penarik becak harus dirawat intensif di Rumah Sakit Tenriawaru, Bone, akibat gizi buruk.
Jamaluddin dan Rosmini yang miskin tak mampu memberi asupan gizi bagi ketiga putri kembarnya di saat air susu ibunya tidak keluar. Akibatnya ketiga bayi yang hanya diberi makan seadanya ini menderita diare akut dan gizi buruk. Perawatan medis yang diupayakan pihak rumah sakit terhadap kembar tiga itu, kini membawa kebingungan tersendiri buat Jamaluddin dan Rosmini. Keluarga miskin ini pun mengharapkan Pemerintah Kabupaten Bone turun tangan membebaskan biaya rumah sakit bagi ketiga putrinya.(ANS/Iwan Taruna dan Rizal Randa)
Bayi Empat Bulan Menderita Gizi Buruk

Liputan6.com, Cirebon: Kemiskinan memang memilukan. Gara-gara dari keluarga miskin, seorang bayi yang menderita gizi buruk terpaksa hanya dirawat di rumahnya, baru-baru ini. Beratnya hanya 1,8 kilogram. Padahal usia Rangga sudah mencapai empat bulan. Badan anak pasangan Dirsan dan Taryu, warga miskin Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ini kurus dan terlihat lemas lunglai. Padahal saat dilahirkan berat badan Rangga cukup gemuk. Namun dari hari ke hari berat badannya terus menyusut.
Rangga sempat dibawa ke Rumah Sakit Arjawinangun, Cirebon. Namun ditolak oleh pihak rumah sakit sehingga Rangga hanya dirawat di rumah hingga saat ini. Keluarga miskin ini pun hanya bisa pasrah. Menunggu dermawan yang mau mengulurkan tangannya.(ANS/Ridwan Pamungkas).
email : bohari089@yahoo.co.id
Gizi Buruk Hantui Masyarakat Indonesia

Tak jauh dari rumah Supriyadi didapati pula penderita gizi buruk lain bernama Firman. Kondisi Firman yang berusia satu tahun ini tak jauh berbeda dengan Supriyadi. Ia pun tak pernah mendapatkan asupan gizi yang memadai. Ini lantaran kedua orang tuanya juga berprofesi sebagai pengemis jalanan. Kedua bocah tersebut memiliki perut yang besar dengan tubuh ceking pertanda menderita marasmus. Berbagai upaya ditempuh orang tua mereka untuk mengobati kedua anak ini, namun selalu terkendala persoalan biaya.
Penderita gizi buruk juga ditemukan di Bengkulu. Kali ini gizi buruk diderita Hengki Farel, bayi berusia sepuluh bulan. Farel, saat ini mendapat perawatan intensif di rumah sakit setempat karena mengalami kesulitan bernapas. Farel menderita gizi buruk juga karena orang tuanya tidak mampu.
Pada tahun ini di Bengkulu, tercatat sedikitnya 377 anak penderita gizi buruk yang sempat dirawat di rumah sakit setempat. Ironisnya, seorang di antaranya meninggal dunia.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV).
email:bohari089@yahoo.co.id














.jpg)



